Sabung ayam wala meron adalah tradisi kuno yang telah menjadi bagian dari budaya berbagai negara di Asia Tenggara, termasuk Filipina. Salah satu hal yang membuat sabung ayam di Filipina begitu unik adalah sistem taruhannya yang menggunakan dua istilah khas: “Wala” dan “Meron”. Kedua istilah ini bukan sekadar penanda kubu dalam pertarungan ayam jantan, melainkan juga mencerminkan tradisi, bahasa, dan cara masyarakat setempat memandang permainan ini.
Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang asal usul istilah Wala dan Meron, bagaimana penggunaannya dalam sabung ayam Filipina, serta peran budaya dan sosial dari praktik ini yang masih berlangsung hingga sekarang.
Apa Itu Wala dan Meron?
Dalam konteks sabong (istilah lokal untuk sabung ayam di Filipina), “Wala” dan “Meron” digunakan untuk membedakan dua ayam yang bertarung:
-
Meron: Ayam milik pihak tuan rumah atau yang pertama didaftarkan. Biasanya ini adalah ayam dari petarung yang lebih dikenal atau lebih diunggulkan.
-
Wala: Ayam milik penantang atau pihak kedua yang mendaftar ke pertandingan.
Dalam bahasa Tagalog (bahasa utama di Filipina), “wala” berarti tidak ada, dan “meron” berarti ada. Secara filosofis, ini mencerminkan posisi kedua ayam di arena — yang satu datang lebih dulu (meron), sementara satunya datang belakangan (wala).
Namun, dalam konteks taruhan, istilah ini lebih dari sekadar makna literal — keduanya menjadi representasi dari pilihan taruhan dan strategi para penonton.
Asal Usul Istilah: Lebih dari Sekadar Bahasa
Banyak yang bertanya: kenapa harus disebut “wala” dan “meron”? Kenapa bukan “kiri” dan “kanan”, atau “merah” dan “biru”?
Jawabannya terletak pada perpaduan budaya, bahasa, dan praktik lokal yang berkembang secara organik. Di Filipina, sabung ayam bukan sekadar perjudian atau hiburan; ia adalah ritual sosial dan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Istilah “wala” dan “meron” mulai populer karena:
-
Bahasa sehari-hari: Kata “wala” dan “meron” sangat umum dalam percakapan orang Filipina. Sehingga, penggunaan istilah ini terasa akrab dan mudah dipahami oleh semua kalangan.
-
Simbol keseimbangan: Dalam pertarungan, selalu ada dua sisi. Istilah ini seperti menggambarkan yin dan yang, keberadaan dan ketiadaan, kekuatan dan kelemahan — yang mana sangat filosofis bagi sebagian kalangan tua di Filipina.
-
Kemudahan dalam taruhan: Saat berada di arena sabung ayam, penonton cukup menyebutkan “meron” atau “wala” kepada juru taruhan (cashier) untuk memasang uang. Praktis dan efisien.
Cara Kerja Taruhan Wala dan Meron
Sistem taruhannya cukup sederhana namun menarik:
-
Jika kamu bertaruh pada Meron, kamu bertaruh pada ayam tuan rumah.
-
Jika kamu bertaruh pada Wala, kamu bertaruh pada ayam penantang.
Biasanya, ayam Meron adalah yang lebih diunggulkan, jadi odds-nya cenderung lebih kecil. Sementara ayam Wala memberi hasil lebih besar jika menang, karena dianggap lebih tidak diunggulkan.
Misalnya:
-
Taruh 100 peso di Meron → menang, dapat 80 peso keuntungan.
-
Taruh 100 peso di Wala → menang, bisa dapat 100–120 peso keuntungan tergantung arena.
Hal ini menciptakan dinamika psikologis dalam bertaruh, di mana penonton harus menilai kondisi ayam, gaya bertarung, reputasi pemilik, bahkan keberuntungan.
Budaya dan Sosial: Sabong Sebagai Warisan
Sabung ayam di Filipina tidak hanya soal adu ayam — ia adalah warisan budaya, tempat orang berkumpul, berbagi cerita, dan menunjukkan keberanian serta kehormatan melalui ayam jago mereka. Istilah “wala” dan “meron” telah menjadi bagian dari identitas lokal, yang bahkan dikenal hingga ke kalangan diaspora Filipina di luar negeri.
Di beberapa daerah, sabung ayam menjadi bagian dari festival tradisional, dengan acara khusus yang mempertemukan petarung-petarung ayam terbaik. Tak jarang, petaruh profesional pun hadir, menjadikan “wala” dan “meron” sebagai bagian dari strategi ekonomi mereka.
Kontroversi dan Perubahan Zaman
Meski diakui sebagai bagian dari budaya, sabung ayam juga tak lepas dari kontroversi. Banyak organisasi animal rights mengecam praktik ini karena dianggap kejam terhadap hewan. Di sisi lain, beberapa pemerintah daerah di Filipina telah mengatur dan melegalkan sabung ayam dengan lisensi resmi.
Menariknya, istilah “wala” dan “meron” tetap bertahan di era digital. Bahkan beberapa platform sabung online (e-sabong) pun masih memakai istilah ini sebagai menu utama pilihan taruhan.
Istilah “wala” dan “meron” bukan hanya kata dalam bahasa Tagalog, tapi telah menjadi simbol kuat dalam budaya sabung ayam Filipina. Keduanya mencerminkan keseimbangan, pilihan, dan adu keberanian antara dua pihak yang berbeda.
Mempelajari asal usul istilah ini membantu kita memahami lebih dalam bahwa sabung ayam bukan sekadar hiburan atau taruhan — tapi juga bentuk komunikasi budaya yang hidup di tengah masyarakat Filipina.
